SELAMAT DATANG DI DUNIA GUBRAK!!!

Gubrak Indonesia

Tampilkan postingan dengan label GZ-Indonesia Timur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GZ-Indonesia Timur. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Oktober 2010

Tionghoa Di Singkawang ( page 2)

Pada abad ke-15 (Tahun 1407), armada Laksamana Ceng Ho (Zeng He) atau Sam Po Bo atau Sam Po Kong tiba di Kukang, Palembang Sumatera dan mulailah terbentuk komunitas muslim Hanafi sampai ke Sambas di Kalbar. (Tuanku Rao, hlm.652 , China Muslim, hlm.2).

Haji Mah Hwang, asisten Laksamana Cheng Ho, dalam bukunya Yingya Shenglam (Pemandangan Indah di Seberang Samudera) menuliskan sebelum Cheng Ho tiba di Nusantara, sudah ada sejumlah Muslim Tionghoa. (Prof. Kong Yuanzhi, Silang Budaya Tiongkok Indonesia, hlm.25, BIP).

Seabad sebelumnya Kaisar Shian (Dinasti Yuan, Tiongkok) pernah mengutus dua orang duta muslim beserta rombongan bernama Sulaiman dan Shamsuddin mengunjungi negara Melayu. (Prof. Kong Yuanzhi, Silang Budaya Tiongkok Indonesia, hlm.24, BIP).

Abad ke-17, Sultan Ahmad (nama Wang Santing atau Wang Samtheng, dikenal sebagai menteri negeri Cina) beristrikan putri Sultan Muhammad dari Brunai, menurunkan Raden Sulaiman, pendiri Kesultanan Sambas. (Pabali H. Musa, Sejarah Kesultanan Sambas, hlm. 126, 127, 130).

Pada Abad ke-18, antara tahun 1720-1750, Sultan Sambas yakni Sultan Umar Akamuddin pertama kali mengundang penambang-penambang orang Tioghoa dari Tiongkok untuk membuka tambang-tambang emas di wilayah Kesultanan Sambas. Sekarang wilayah Singkawang, Bengkayang dan Sambas. (Chinese Democracies, hlm.25, 312)

Antara 1776-1854 di wilayah Sambas, terbentuk Federasi dari 14 Kongsi – kongsi komunitas penambang Tionghoa. Bernama Heshun Zong Ting (Fosjoen). Ke-14 Kongsi-kongsi itu adalah a.l : Da Gang (Thai Kong), Keng Wei (Hang Moei), Lintian, dll.

Tahun 1834, George Windsor Earl, dalam karangannya The Eastern Seas or Voyages and Adventures In The Indian Archipelago, menuliskan kunjungannya ke Singkawang, Sambas dan Bengkayang pada tahun 1934. Banyak catatan sejarah kehidupan masyarakat Singbebas (Singkawang Bengkayang Sambas) tercermin dalam kunjungan tersebut, antara lain pasar dan toko-toko di Singkawang hanya dijaga oleh nyonya-nyonya yang bersuami laki-laki Tionghoa dan hanya sedikit nyonya pemilik toko adalah orang Tionghoa, kebanyakan adalah wanita Dayak yang bersuamikan orang Tionghoa. Terlihat bahwa hampir seabad sejak kedatangan rombongan penambang tionghoa ke Singbebas yang ada adalah pria semua, keseimbangan gender hanya dapat didekati dengan perkawinan campur pria tionghoa dengan wanita setempat.

Tahun 1838, Doty dan Puhlman, dua pendeta Jesuit, misionaris Amerika yang berkunjung ke Singbebas, menuliskan kunjungannya dalam “Tour in Borneo, From Sambas Through Monterado to Pontianak and……..Settlement of Chinese and Dayak, During The ……..1838), antara lain penghidupan dan kehidupan penduduk Tionghoa dan lingkungannya adalah yang terbaik dari tempat-tempat lain yang pernah mereka kunjungi (di seluruh dunia) bahkan secara mengejutkan mereka menemukan anak-anak sampai umur 14 tahun semua bersekolah ( Chun Kew, 89 )

Abad ke-21 bahwa wilayah Sambas yang melingkupi kota Singkawang, Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang (Singbebas) bermakna “sam’ (tiga) “bas”(suku/etnis), dalam arti penduduknya terdiri dari :

1. Etnis Melayu Sambas, yang beragama Islam, peleburan dari berbagai suku/etnis yaitu Melayu, turunan campuran Tionghoa-Dayak Islam, Bugis, Jawa, dan lain-lain yang beragama Islam dan mengidentifikasi diri sebagai etnis Melayu.

2. Etnis Tionghoa Tankaw (Tao, Budha dan Konfusius), katolik, Protestan merupakan turunan cina perantauan dan campuran Tionghoa Dayak yang awal mengidentifikasikan diri dalam etnis Tionghoa (turunan China perantauan di Indonesia)

3. Etnis Dayak, beragama Katolik, Protestan, Islam dan sebagian kecil animisme mengidentifikasi diri dengan suku Dayak (penduduk asli Kalimantan)

Berdasarkan sekelumit informasi dan gambaran sejarah tentang pertautan persaudaraan dan persinggungan agama yang dianut masing-masing etnis di Sambas, diharapkan dapat meningkatkan persatuan dan harmonisasi etnis di Sambas dalam menyongsong masa depan, era globalisasi.

Bahwa perayaan Festival Cap Go Meh di Singkawang Februari 2008, merupakan perayaan awal Tiongkok yang sudah ada sejak lebih dari 250 tahun dirayakan di Sambas, telah beradaptasi dan berasimilasi dengan budaya, tradisi dan ritual tradisional animisme setempat, merupakan festival pesta rakyat terbesar di dunia dan fenomena menarik atau perspektif budaya dan pariwisata dunia.

Literatur :

1. Mary Somers Heidhues, Golddiggers, Farmers, and Traders in The Chinesse District of West Kalimantan Indonesia, SouthEast Asia Program Publications (Southeast Asia Program), Cornell University, Ithaca, New York, 20032. Yuan Bing Ling, Chinesse Democracies, A Study Of the kongsis of West Borneo, (Research School of Asia, Africa and America Indian Studies, Universiteit Leiden, The Netherland, 2000).3. Prof. Kong Yuan Zi Hi, Silang Budaya Tiongkok Indonesia No. ISBN : 974-694-8397.4. Prof. Kong Yuan Zi Hi, Muslim Tionghoa Cheng Ho, Yayasan Obor Indonesia ISBN : 979-461-361-4.5. Mo Parlindungan, Tuanku Rao, LKIS 2007 ISBN : 979-97853-3-2.6. H.J, de Graaf, dkk, Cina Muslim, PT. Tiara Wacana Yogya, 1998 ISBN : 979-8120-75-2.7. Pabali H. Musa, Sejarah Kesultanan Sambas Kalimantan, STAIN Pontianak Press 2003 ISBN : 979-97063-3-5.

Tionghoa Di Singkawang ( page 1)

Akibat perang, bencana alam, dsb, banyak orang Melayu tersebar dari Asia Selatan ke Asia Tenggara. Sebagian dari mereka tiba dan menetap di kepulauan Nusantara. Gelombang pertama orang Melayu disebut Melayu Tua (Proto Melayu) dan penyebarannya sekitar 1.500 Tahun SM. Negrito dan Wedda, yang masing-masing adalah ras asli di kepulauan nusantara berbaur dengan atau terdesak kedaerah pinggiran oleh Melayu Tua tersebut. Menurut Dr. Fridolin Ukur, penduduk pribumi Kalimantan yang dikenal dengan nama “dayak” berasal dari Tiongkok bagian selatan, atau tepatnya Provinsi Yunan (d/h. Yunnan, demikian juga selanjutnya) yang ikut dengan arus migrasi besar-besaran antara tahun 3.000-5.000 SM. Demikian dikutip oleh Ali Bastian. (Bastian,Ali, Penduduk Asli Kalimantan dari Tiongkok Selatan? Harian Berita Yuda, 23 September 1991).

Penyebaran gelombang kedua yang disebut Melayu Muda (Deutro Melayu) terjadi sekitar 200-300 tahun SM. “Pada awal abad ke -2 SM, sebagaimana tercatat dalam buku pelajaran Sejarah Indonesia, terjadi migrasi nenek moyang orang Indonesia ke kepulauan Nusanatara ini, Migrasi bangsa iniberlangsung lama sekali dan dalam gelombang-gelombang pada waktu yang berlainan. Tanah asal mereka adalah Tiongkok Selatan (Yunnan). Dari sana mereka berjalan ke pantai barat Hindia Belakang, terus ke selatan dan akhitnya tiba di Indonesia yang sekarang” (Saripin, S., Sejarah Kesenian Indonesia, Jakarta: Pratnya Paramita, 1960, hlm.21) .

Tapi saya berpendapat lain. Menurut saya nama “dayak” itu bukanlah nama dari penduduk asli Borneo. Seperti juga nama istilah ‘melayu tua’ atau ‘melayu muda’ itu diberikan oleh para sarjana dan peneliti sejarah yang tidak tahu harus memberi nama apa. Sedangkan penelitian-pemelitian ini dilakukan pada era ketika istilah-istilah “melayu” dan “dayak” itu sudah ada. Istilah atau nama “dayak” dan “melayu” itu ada setelah masuknya Islam ke bumi Nusantara. Islam adalah agama yang masuk kedua setelah masuknya Hindu. Hindu datang dari Kerajaan Hindu Kutai Kertanegara pada masa Mulawarman. Ketika itu semua penduduk asli yang ada di Borneo masih tidak beragama, hanya animisme. Kita semua tahu Kutai adalah kerajaan hindu pertama di Nusantara. Majapahit datang ke Borneo setelah spenduduk disini banyak yang memeluk Hindu. Itulah sebabnya Majapahit masuk ke Borneo dengan damai tanpa peperangan. Hindu di Borneo banyak dikenal dengan nama Hindu Kaharingan. Dengan Sang Jubata sebagai dewa utama. Ketika itu belum ada Islam. Semua penduduk adalah sama, tidak ada dayak dan tidak ada melayu.

Ketika Islam datang penduduk asli yang masuk Islam dinamakan “Melayu” karena tinggal didaerah-daerah pesisir dan tepian sungai-sungai besar. Sedangkan penduduk asli yang tidak masuk Islam karena belum mendengar syiar Islam karena tinggal jauh didaerah pedalaman yang lebih hulu atau pegunungan dinamakan “Dayak”. Itulah sebabnya mengapa Melayu selalu identik dengan Islam. Saya juga tidak setuju dengan istilah Melayu Tua dan Melayu Muda tersebut. Saya lebih cenderung akan menggunakan istilah “cikal bakal melayu”.

Prof. Kong Yuanzhi mengadakan: Kemudian Melayu Muda ini membaur dengan Melayu Tua, atau mendesak sebagiannya kedaerah pinggiran. Keturunan kedua golongan yang berbaur itulah yang menjadi bagian utama bangsa Indonesia saat ini. Darimana gerangan Melayu Tua dan Melayu Muda yang kemudian menetap di Nusantara pada zaman prasejarah itu berasal? Terlepas dari berbagai perbedaan pendapat, banyak cendekiawan sepakat bahwa baik Melayu Tua maupun Melayu Muda berasal dari bagian selatan darata Asia. Argumen ini telah terbukti dengan hasil studi antropologi, arkelologi, peradatan, linguistik dsb. Dan dari semua itu dapat dipastikan bahwa semuanya agama aslinya adalah Animisme.(Prof. Kong Yuanzhi, Silang Budaya Tiongkok Indonesia, hlm.2-4, BIP).

kemudian dikatanya lagi : Pada Abad ke-7, Buddhisme sangat berkembang di Tiongkok maupun di Indonesia. Selama 25 tahun (671-695), Yi Jing (I-Tsing) bikkhu senior Dinasti Tang, dalam perjalanannya mengejar agama Buddha ke India (Karyanya: Kisah Perjalanan Mengejar Buddhisme di Laut Selatan), pernah 3 kali singgah di Sriwijaya, dan tinggal belasan tahun disana. Hui Ning (664-665), juga seorang bikkhu senior pada Dinasti Tang tiba di Keling, Jawa. Sekitar 20 bikkhu Tionghoa sudah mengunjungi Sriwijaya, Melayu (sekitar Jambi) atau Keling ketika Yi Jing dan Hui Ning mengadakan perlawatan ke sana. Hu Ning pada akhirnya menetap di Sriwijaya dan Jawa, dan meninggal pada usia lanjut di Indonesia. Dalam hal ini ternyata Kerajaan Sriwijaya sangat mempengaruhi perkembangan agama Buddha yang ada di Tiongkok. Yi Jing malah mengusulkan pada kaisar bagi bikkhu Tiongkok yang ingin mempelajari Buddhisme di India agar belajar dahulu di Sriwijaya. Dari letak geografi, perjalanan laut dari Tiongkok ke Jawa dan Sriwijaya, mereka singgah dipanatai-pantai Kalimantan Barat, walau tidak disebutkan secara khusus karena waktu itu langka penduduk. (Prof. Kong Yuanzhi, Silang Budaya Tiongkok Indonesia, hlm.15-17, BIP).

Sejalan dengan proses Islamisasi yang berlangsung dibeberapa pulau besar Indonsia pada pertengahan abad ke-16, Buddha berangsur-angsur menjadi agama yang banyak dianut oleh orang-orang Tionghoa. Keadaan ini masih berlanjut hingga kini. Sejak Dinasti Han samapai Dinasti Tang, di Tiongkok makin banyak penduduk yang menganut Buddha, Taoisme, dan Konghucu. Orang Tionghoa di Indonesia (orang Tionghoa disini secara luas berarti semua orang berdarah keturunan Tionghoa) menganut ketiga agama tersebut sebagai “Sam Kauw” atau Tridharma. Mereka memeluk ketiga agama tersebut dan membawa kebudayaan tradisional Tionghoa di Indonesia. Tiong Hoa Hwee Koan (THHK), sebuah perkumpulan orang Tionghoa yang terkenal, didirikan pada tahun 1900. Lee Kim Hok, salah seorang pemimipin perkumpulan itu dalam tulisannya yang berjudul Agama Orang Tinghoa, telah menguraikan perpaduan ajaran Konghucu dengan Buddha dan Taoisme.

Klenteng Sam Po Kong yang sangat terkenal di Semarang, Jawa tengah, yang didirikan oleh orang Tionghoa, secara mencolok mencerminkan cirri-ciri ketiga agama tersebut. Cendikiawan Singapura Lee Khoon Choy menuliskan dalam bukunya, Yinni: Shenhua Yu Xianshi (Indonesia: Mitos dan Realita), bahwa Kelenteng sam Po Kong mengandung cirri-ciri perpaduan tritunggal ketiga agama tersebut. Buddhisme tercermin pada bentuk Klenteng, Taoisme tercermin pada suasana misterius jejak peninggalan jangkar kuno, sedangkan Konghucu tercermin dalam lukisan foto Konghucu serta jejak-jejak peninggalan mengenai peringatan 100 pelaut, yang kesemuanya mewakili azas ajaran menyembah nenek moyang dari agama Konghucu.

Pada Tahun 1934, Kwee Tek Hoay mendirikan sebuah organisasi sosial keagamaan bernama Sam Kauw Hwee Indonesia pada masa Hindia Belanda, dengan tujuan untuk menyatukan, mengembangkan, dan mempraktikan ketiga agama itu. Pada tahun 1952 ia mendirikan Gabungan Sam Kauw Hwee, yang diganti nama menjadi Gabungan Tridharma Indonesia pada era Soeharto (ORBA)

Pemerintahan Soeharto menggalakkan politik pembauran terhadap orang Tionghoa Indonesia, dan karena Konghucu dan Taoisme dianggap berasal dari Tiongkok, serta dianggap tidak menguntungkan pembauran orang Tionghoa, maka dikenakan berbagai pembatasan. Gabungan Tridharma Indonesia kini utamanya mengadakan kegiatan ibadat Buddha, mayoritas mutlak umatnya adalah pemeluk Buddha Mahayana. (Prof. Kong Yuanzhi, Silang Budaya Tiongkok Indonesia, hlm.19-21, BIP).


Mengenal Tanah Papua

 Mengacu pada perbedaan tofografi dan adat istiadat, penduduk Papua dapat dibedakan menjadi tiga kelompok besar, masing-masing:

1. Penduduk daerah pantai dan kepulauan dengan ciri-ciri umum rumah di atas tiang (rumah panggung) dengan mata pencaharian menokok sagu dan menangkap ikan);2. Penduduk daerah pedalaman yang hidup di daerah sungai, rawa danau dan lembah serta kaki gunung. Umumnya mereka bermata pencaharian menangkap ikan, berburu dan mengumpulkan hasil hutan;3. Penduduk daerah dataran tinggi dengan mata pencaharian berkebun dan berternak secara sederhana.


Kelompok asli di Papua terdiri atas 193 suku dengan 193 bahasa yang masing-masing berbeda. Tribal arts yang indah dan telah terkenal di dunia dibuat oleh suku Asmat, Ka moro, Dani, dan Sentani. Sumber berbagai kearifan lokal untuk kemanusiaan dan pengelolaan lingkungan yang lebih baik diantaranya dapat ditemukan di suku Aitinyo, Arfak, Asmat, Agast, Aya maru, Mandacan, Biak, Arni, Sentani, dan lain-lain.

Umumnya masyarakat Papua hidup dalam sistem kekerabatan dengan menganut garis keturunan ayah (patrilinea). Budaya setempat berasal dari Melanesia. Masyarakat berpenduduk asli Papua cenderung menggunakan bahasa daerah yang sangat dipengaruhi oleh alam laut, hutan dan pegunungan.

Dalam perilaku sosial terdapat suatu falsafah masyarakat yang sangat unik, misalnya seperti yang ditunjukan oleh budaya suku Komoro di Kabupaten Mimika, yang membuat genderang dengan menggunakan darah. Suku Dani di Kabupaten Jayawijaya yang gemar melakukan perang-perangan, yang dalam bahasa Dani disebut Win. Budaya ini merupakan warisan turun-temurun dan di jadikan festival budaya lembah Baliem. Ada juga rumah tradisional Honai, yang didalamnya terdapat mummy yang di awetkan dengan ramuan tradisional. Terdapat tiga mummy di Wamena; Mummy Aikima berusia 350 tahun, mummy Jiwika 300 tahun, dan mummy Pumo berusia 250 tahun.

Di suku Marin, Kabupaten Merauke, terdapat upacara Tanam Sasi, sejenis kayu yang dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian upacara kematian. Sasi ditanam 40 hari setelah hari kematian seseorang dan akan dicabut kembali setelah 1.000 hari. Budaya suku Asmat dengan ukiran dan souvenir dari Asmat terkenal hingga ke mancanegara. Ukiran asmat mempunyai empat makna dan fungsi, masing-masing:

1. Melambangkan kehadiran roh nenek moyang;2. Untuk menyatakan rasa sedih dan bahagia;3. Sebagai suatu lambang kepercayaan dengan motif manusia, hewan, tetumbuhan dan benda-benda lain;4. Sebagai lambang keindahan dan gambaran ingatan kepada nenek moyang.

Budaya suku Imeko di kabupaten Sorong Selatan menampilkan tarian adat Imeko dengan budaya suku Maybrat dengan tarian adat memperingati hari tertentu seperti panen tebu, memasuki rumah baru dan lainnya.

Keagamaan merupakan salah satu aspek yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat di Papua dan dalam hal kerukunan antar umat beragama di sana dapat dijadikan contoh bagi daerah lain, mayoritas penduduknya beragama Kristen, namun demikian sejalan dengan semakin lancarnya transportasi dari dan ke Papua, jumlah orang dengan agama lain termasuk Islam juga semakin berkembang. Banyak misionaris yang melakukan misi keagamaan di pedalaman-pedalaman Papua. Mereka memainkan peran penting dalam membantu masyarakat, baik melalui sekolah misionaris, balai pengobatan maupun pendidikan langsung dalam bidang pertanian, pengajaran bahasa Indonesia maupun pengetahuan praktis lainnya. Misionaris juga merupakan pelopor dalam membuka jalur penerbangan ke daerah-daerah pedalaman yang belum terjangkau oleh penerbangan reguler. 


Nama dan Latar Belakang Sejarah 



Pada waktu pemerintah Belanda berkuasa di daerah Papua hingga awal tahun 1960-an nama yang dipakai untuk menamakan Kepulauan Biak-Numfor adalah Schouten Eilanden, menurut nama orang Eropa pertama berkebangsaan Belanda, yang mengunjungi daerah ini pada awal abad ke 17. Nama-nama lain yang sering dijumpai dalam laporan-laporan tua untuk penduduk dan daerah kepuluan ini adalah Numfor atau Wiak. Fonem w pada kata wiak sebenarnya berasal dari fonem v yang kemudian berubah menjadi b sehingga muncullah kata biak seperti yang digunakan sekarang. Dua nama terakhir itulah kemudian digabungkan menjadi satu nama yaitu Biak-Numfor, dengan tanda garis mendatar di antara dua kata itu sebagai tanda penghubung antara dua kata tersebut, yang dipakai secara resmi untuk menamakan daerah dan penduduk yang mendiami pulau-pulau yang terletak di sebelah utara Teluk Cenderawasih itu. Dalam percakapan sehari-hari orang hanya menggunakan nama Biak saja yang mengandung pengertian yang sama juga dengan yang disebutkan di atas.

Tentang asal-usul nama serta arti kata tersebut ada beberapa pendapat. Pertama ialah bahwa nama Biak yang berasal dari kata v`iak itu yang pada mulanya merupakan suatu kata yang dipakai untuk menamakan penduduk yang bertempat tinggal di daerah pedalaman pulau-pulau tersebut. Kata tersebut mengandung pengertian orang-orang yang tinggal di dalam hutan`,`orang-orang yang tidak pandai kelautan`, seperti misalnya tidak cakap menangkap ikan di laut, tidak pandai berlayar di laut dan menyeberangi lautan yang luas dan lain-lain. Nama tersebut diberikan oleh penduduk pesisir pulau-pulau itu yang memang mempunyai kemahiran tinggi dalam hal-hal kelautan. Sungguhpun nama tersebut pada mulanya mengandung pengertian menghina golongan penduduk tertentu, nama itulah kemudian diterima dan dipakai sebagai nama resmi untuk penduduk dan daerah tersebut.

Pendapat lain, berasal dari keterangan ceritera lisan rakyat berupa mite, yang menceritakan bahwa nama itu berasal dari warga klen Burdam yang meninggalkan Pulau Biak akibat pertengkaran mereka dengan warga klen Mandowen. Menurut mite itu, warga klen Burdam memutuskan berangkat meninggalkan Pulau Warmambo (nama asli Pulau Biak) untuk menetap di suatu tempat yang letaknya jauh sehingga Pulau Warmambo hilang dari pandangan mata. Demikianlah mereka berangkat, tetapi setiap kali mereka menoleh ke belakang mereka melihat Pulau Warmambo nampak di atas permukaan laut. Keadaan ini menyebabkan mereka berkata, v`iak wer`, atau `v`iak`, artinya ia muncul lagi. Kata v`iak inilah yang kemudian dipakai oleh mereka yang pergi untuk menamakan Pulau Warmambo dan hingga sekarang nama itulah yang tetap dipakai (Kamma 1978:29-33).

Kata Biak secara resmi dipakai sebagai nama untuk menyebut daerah dan penduduknya yaitu pada saat dibentuknya lembaga Kainkain Karkara Biak pada tahun 1947 (De Bruijn 1965:87). Lembaga tersebut merupakan pengembangan dari lembaga adat kainkain karkara mnu yaitu suatu lembaga adat yang mempunyai fungsi mengatur kehidupan bersama dalam suatu komnunitas yang disebut mnu atau kampung. Penjelasan lebih luas tentang kedua lembaga itu diberikan pada pokok yang membicarakan organisasi kepemimpinan di bawah.

Nama Numfor berasal dari nama pulau dan golongan penduduk asli Pulau Numfor. Penggabungan nama Biak dan Numfor menjadi satu nama dan pemakaiannya secara resmi terjadi pada saat terbentuknya lembaga dewan daerah di Kepulauan Schouten yang diberi nama Dewan daerah Biak-Numfor pada tahun 1959.

Dalam tulisan ini saya menggunakan nama Biak-Numfor untuk menyebut daerah geografisnya dan daerah administrasi pemerintahannya. Nama Biak digunakan untuk menyebut bahasa dan orang yang memeluk kebudayaan Biak yang bertempat tinggal di daerah Kepulauan Biak-Numfor sendiri maupun yang bertempat tinggal di daerah-daerah perantauan yang terletak di luar kepulauan tersebut.

Tentang sejarah orang Biak, baik sejarah asal usul maupun sejarah kontaknya dengan dunia luar, tidak diketahui banyak karena tidak tersedia keterangan tertulis. Satu-satunya sumber lokal yang memberikan keterangan tentang asal-usul orang Biak seperti halnya juga pada suku-suku bangsa lainnya di Papua, adalah mite. Menurut mite moyang orang Biak berasal dari satu daerah yang terletak di sebelah timur, tempat matahari terbit. Moyang pertama datang ke daerah kepulauan ini dengan menggunakan perahu. Ada beberapa versi ceritera kedatangan moyang pertama itu. Salah satu versi mite itu menceriterakan bahwa moyang pertama dari orang Biak terdiri dari sepasang suami isteri yang dihanyutkan oleh air bah di atas sebuah perahu dan ketika air surut kembali terdampar di atas satu bukit yang kemudian diberi nama oleh kedua pasang suami isteri itu Sarwambo. Bukit tersebut terdapat di bagian timur laut Pulau Biak (di sebelah selatan kampung Korem sekarang). Dari bukit sarwambo, moyang pertam itu bersama anak-anaknya berpindah ke tepi Sungai Korem dan dari tempat terakhir inilah mereka berkembang biak memenuhi seluruh Kepulauan Biak-Numfor.

Selanjutnya tentang sejarah kontak orang Biak dengan dunia luar, baik menurut ceritera lisan tentang tokoh-tokoh legendaris Fakoki dan Pasrefi maupun sumber keterangan dari Tidore diketahui bahwa kontak itu telah terjadi jauh sebelum kedatangan orang Eropa pertama di daerah Papua pada awal abad ke-16 (Kamma 1953:151). Hubungan tersebut terjadi dengan penduduk di daerah pesisir utara Kepala Burung, Kepulauan Raja Ampat dan dengan penduduk di Kepulauan Maluku.

Kontak orang Biak dengan orang luar itu terjadi terutama melalui hubungan perdagangan dan ekspedisi-ekspedisi perang. Bukti terlihat pada adanya pemukiman-pemukiman orang Biak yang sampai sekarang dapat dijumpai di berbagai tempat seperti tersebut di atas. Rupanya pada masa sebelum kedatangan orang Eropa di Kepulauan Maluku dan daerah Papua awal abad ke-16, orang Biak telah menjelajah ke berbagai wilayah Indonesia lainnya baik melalui ekspedisi-ekspedisi perdagangan dan perang yang dilakukan oleh orang-orang Biak sendiri maupun bersama dengan sekutu-sekutunya, misalnya dengan Kesultanan Tidore atau dengan Kesultanan Ternate. Kejayaan orang Biak untuk melakukan berbagai ekspedisi itu menghilang pada akhir abad ke-15 (Kamma 1952:151). Tidak lama sebelum kedatangan orang Eropa pertama di kawasan Maluku dan Kepulauan Raja Ampat pada awal abad ke-16.

Sejarah Provinsi Kalimantan Selatan

 Sejarah Pemerintahan di Kalimantan Selatan diperkirakan dimulai ketika berdiri Kerajaan Tanjung Puri sekitar abad 5-6 Masehi. Kerajaan ini letaknya cukup strategis yaitu di Kaki Pegunungan Meratus dan di tepi sungai besar sehingga di kemudian hari menjadi bandar yang cukup maju. Kerajaan Tanjung Puri bisa juga disebut Kerajaan Kahuripan, yang cukup dikenal sebagai wadah pertama hibridasi, yaitu percampuran antarsuku dengan segala komponennya. Setelah itu berdiri kerajaan Negara Dipa yang dibangun perantau dari Jawa.

Pada abad ke 14 muncul Kerajaan Negara Daha yang memiliki unsur-unsur Kebudayaan Jawa akibat pendangkalan sungai di wilayah Negara Dipa. Sebuah serangan dari Jawa menghancurkan Kerajaan Dipa ini. Untuk menyelamatkan, dinasti baru pimpinan Maharaja Sari Kaburangan segera naik tahta dan memindahkan pusat pemerintahan ke arah hilir, yaitu ke arah laut di Muhara Rampiau. Negara Dipa terhindar dari kehancuran total, bahkan dapat menata diri menjadi besar dengan nama Negara Daha dengan raja sebagai pemimpin utama. Negara Daha pada akhirnya mengalami kemunduran dengan munculnya perebutan kekuasaan yang berlangsung sejak Pangeran Samudra mengangkat senjata dari arah muara, selain juga mendirikan rumah bagi para patih yang berada di muara tersebut.

Pemimpin utama para patih bernama MASIH. Sementara tempat tinggal para MASIH dinamakan BANDARMASIH. Raden Samudra mendirikan istana di tepi sungai Kuwin untuk para patih MASIH tersebut. Kota ini kelak dinamakan BANJARMASIN, yaitu yang berasal dari kata BANDARMASIH.

Kerajaan Banjarmasin berkembang menjadi kerajaan maritim utama sampai akhir abad 18. Sejarah berubah ketika Belanda menghancurkan keraton Banjar tahun 1612 oleh para raja Banjarmasin saat itu panembahan Marhum, pusat kerajaan dipindah ke Kayu Tangi, yang sekarang dikenal dengan kota Martapura.

Awal abad 19, Inggris mulai melirik Kalimantan setelah mengusir Belanda tahun 1809. Dua tahun kemudian menempatkan residen untuk Banjarmasin yaitu Alexander Hare. Namun kekuasaanya tidak lama, karena Belanda kembali.

Babak baru sejarah Kalimantan Selatan dimulai dengan bangkitnya rakyat melawan Belanda. Pangeran Antasari tampil sebagai pemimpin rakyat yang gagah berani. Ia wafat pada 11 Oktober 1862, kemudian anak cucunya membentuk PEGUSTIAN sebagai lanjutan Kerajaan Banjarmasin, yang akhirnya dihapuskan tentara Belanda Melayu Marsose, sedangkan Sultan Muhammad Seman yang menjadi pemimpinnya gugur dalam pertempuran. Sejak itu Kalimantan Selatan dikuasai sepenuhnya oleh Belanda.

Daerah ini dibagi menjadi sejumlah afdeling, yaitu Banjarmasin, Amuntai dan Martapura. Selanjutnya berdasarkan pembagian organik dari Indisch Staatsblad tahun 1913, Kalimantan Selatan dibagi menjadi dua afdeling, yaitu Banjarmasin dan Hulu Sungai. Tahun 1938 juga dibentuk Gouverment Borneo dengan ibukota Banjarmasin dan Gubernur Pertama dr. Haga.

Setelah Indonesia merdeka, Kalimantan dijadikan propinsi tersendiri dengan Gubernur Ir. Pangeran Muhammad Noor. Sejarah pemerintahan di Kalimanatn Selatan juga diwarnai dengan terbentuknya organisasi Angkatan Laut Republik Indonesia ( ALRI ) Divisi IV di Mojokerto, Jawa Timur yang mempersatukan kekuatan dan pejuang asal Kalimantan yang berada di Jawa.

Dengan ditandatanganinya Perjanjian Linggarjati menyebabkan Kalimantan terpisah dari Republik Indonesia. Dalam keadaan ini pemimpin ALRI IV mengambil langkah untuk kedaulatan Kalimantan sebagai bagian wilayah Indonesia, melalui suatu proklamasi yang ditandatangani oleh Gubernur ALRI Hasan Basry di Kandangan 17 Mei 1949 yang isinya menyatakan bahwa rakyat Indonesia di Kalimantan Selatan memaklumkan berdirinya pemerintahan Gubernur tentara ALRI yang melingkupi seluruh wilayah Kalimantan Selatan. Wilayah itu dinyatakan sebagai bagian dari wilayah RI sesuai Proklamasi kemerdekaaan 17 agustus 1945. Upaya yang dilakukan dianggap sebagai upaya tandingan atas dibentuknya Dewan Banjar oleh Belanda.

Menyusul kembalinya Indonesia ke bentuk negara kesatuan kehidupan pemerintahan di daerah juga mengalamai penataaan. Di wilayah Kalimantan, penataan antara lain berupa pemecahan daerah Kalimantan menjadi 3 propinsi masing-masing Kalimantan Barat, Timur dan Selatan yang dituangkan dalam UU No.25 Tahun 1956.

Berdasarkan UU No.21 Tahun 1957, sebagian besar daerah sebelah barat dan utara wilayah Kalimantan Selatan dijadikan Propinsi Kalimantan Tengah. Sedangkan UU No.27 Tahun 1959 memisahkan bagian utara dari daerah Kabupaten Kotabaru dan memasukkan wilayah itu ke dalam kekuasaan Propinsi Kalimantan Timur. Sejak saat itu Propinsi Kalimantan Selatan tidak lagi mengalami perubahan wilayah, dan tetap seperti adanya. Adapun UU No.25 Tahun 1956 yang merupakan dasar pembentukan Propinsi Kalimantan Selatan kemudian diperbaharui dengan UU No.10 Tahun 1957 dan UU No.27 Tahun 1959.Sumber : www.kalselprov.go.id

Kerajaan Kutai

Kutai Martadipura adalah kerajaan bercorak Hindu di Nusantara yang memiliki bukti sejarah tertua. Kerajaan ini terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur, tepatnya di hulu sungai Mahakam. Nama Kutai diambil . Nama Kutai diberikan oleh para ahli mengambil dari nama tempat ditemukannya prasasti yang menunjukkan eksistensi kerajaan tersebut. Tidak ada prasasti yang secara jelas menyebutkan nama kerajaan ini dan memang sangat sedikit informasi yang dapat diperoleh.

Sejarah

Yupa
Prasasti Kerajaan Kutai

Informasi yang ada diperoleh dari Yupa / prasasti dalam upacara pengorbanan yang berasal dari abad ke-4. Ada tujuh buah yupa yang menjadi sumber utama bagi para ahli dalam menginterpretasikan sejarah Kerajaan Kutai. Dari salah satu yupa tersebut diketahui bahwa raja yang memerintah kerajaan Kutai saat itu adalah Mulawarman. Namanya dicatat dalam yupa karena kedermawanannya menyedekahkan 20.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.

Mulawarman

Mulawarman adalah anak Aswawarman dan cucu Kundungga. Nama Mulawarman dan Aswawarman sangat kental dengan pengaruh bahasa Sanskerta bila dilihat dari cara penulisannya. Kundungga adalah pembesar dari Kerajaan Campa (Kamboja) yang datang ke Indonesia. Kundungga sendiri diduga belum menganut agama Budha.
Aswawarman

Aswawarman mungkin adalah raja pertama Kerajaan Kutai yang bercorak Hindu. Ia juga diketahui sebagai pendiri dinasti Kerajaan Kutai sehingga diberi gelar Wangsakerta, yang artinya pembentuk keluarga. Aswawarman memiliki 3 orang putera, dan salah satunya adalah Mulawarman.

Putra Aswawarman adalah Mulawarman. Dari yupa diketahui bahwa pada masa pemerintahan Mulawarman, Kerajaan Kutai mengalami masa keemasan. Wilayah kekuasaannya meliputi hampir seluruh wilayah Kalimantan Timur. Rakyat Kutai hidup sejahtera dan makmur.

Kerajaan Kutai seakan-akan tak tampak lagi oleh dunia luar karena kurangnya komunikasi dengan pihak asing, hingga sangat sedikit yang mendengar namanya.
Berakhir

Kerajaan Kutai berakhir saat Raja Kutai yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas dalam peperangan di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Perlu diingat bahwa Kutai ini (Kutai Martadipura) berbeda dengan Kerajaan Kutai Kartanegara yang ibukotanya pertama kali berada di Kutai Lama (Tanjung Kute). Kutai Kartanegara inilah, di tahun 1365, yang disebutkan dalam sastra Jawa Negarakertagama. Kutai Kartanegara selanjutnya menjadi kerajaan Islam yang disebut Kesultanan Kutai Kartanegara.

Nama-Nama Raja Kutai

1. Maharaja Kundungga, gelar anumerta Dewawarman
2. Maharaja Asmawarman (anak Kundungga)
3. Maharaja Mulawarman
4. Maharaja Marawijaya Warman
5. Maharaja Gajayana Warman
6. Maharaja Tungga Warman
7. Maharaja Jayanaga Warman
8. Maharaja Nalasinga Warman
9. Maharaja Nala Parana Tungga
10. Maharaja Gadingga Warman Dewa
11. Maharaja Indra Warman Dewa
12. Maharaja Sangga Warman Dewa
13. Maharaja Candrawarman
14. Maharaja Sri Langka Dewa
15. Maharaja Guna Parana Dewa
16. Maharaja Wijaya Warman
17. Maharaja Sri Aji Dewa
18. Maharaja Mulia Putera
19. Maharaja Nala Pandita
20. Maharaja Indra Paruta Dewa
21. Maharaja Dharma Setia

Lain-lain

Nama Maharaja Kundungga oleh para ahli sejarah ditafsirkan sebagai nama asli orang Indonesia yang belum terpengaruh dengan nama budaya India.Sementara putranya yang bernama Asmawarman diduga telah terpengaruh budaya Hindu.Hal ini di dasarkan pada kenyataan bahwa kata Warman berasal dari bahasa Sangsekerta.Kata itu biasanya digunakan untuk ahkiran nama-nama masyarakat atau penduduk India bagian Selatan.


http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Kutai