SELAMAT DATANG DI DUNIA GUBRAK!!!

Gubrak Indonesia

Rabu, 02 Februari 2011

Diplomasi Budaya ala Cheng Ho

Judul: Cheng Ho: His Cultural Diplomacy in Palembang
Editor: Bambang Budi Utomo
Penerbit: Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Dewan Kesenian Sumsel, Persatuan Iman Tauhid Islam Cabang Sumsel.
Isi: xvi, 120 halaman
Cetakan: 1, 2008



PERINGATAN 600 tahun ekspedisi Cheng Ho ke Nusantara, satu seminar digelar di Palembang beberapa waktu lalu. Lima makalah yang disajikan pada seminar itu kemudian dituangkan ke dalam sebuah buku berjudul Cheng Ho: His Cultural Diplomacy in Palembang.

Sejarawan A Dahana menulis tentang Cheng Ho dan Sistem Hubungan Internasional dari Kekaisaran China di Abad 15. Cheng Ho (atau Zheng He: dalam ejaan pinyin Mandarin) merupakan sosok legendaris dalam sejarah. Menurut sumber klasik China, dia terkenal sebagai penghubung antara kekaisaran China Kuno dengan pelbagai kerajaan di wilayah Laut China Selatan. Antara tahun 1405-1433 Cheng Ho berlayar muhibah ke Jawa (6 kali), Samudera Pasai (5 kali), Lamuri, Aceh (7 kali), dan Palembang (4 kali) (halaman 1).

Budayawan Djohan Hanafiah mengamati okupasi China di Palembang. Keberadaan pusat Sriwijaya di Palembang diketahui sampai abad 10. Serangan Tamil pada 1025 Masehi menyebabkan lemahnya kekuatan Sriwijaya, menyusul pindahnya ibukota kedatuan itu dari Palembang ke Jambi. Sejak 1079 Sriwijaya telah memiliki hubungan dengan Kekaisaran China (halaman 19).

Uka Tjandrasasmita, guru besar pada Fakulta Sejarah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, membawakan judul: Perjalanan Laksamana Cheng Ho ke Palembang dan Pengaruhnya. Jauh sebelum ekspedisi bahari yang dipimpin Laksamana Cheng Ho menjelajahi berbagai kawasan perairan di laut selatan (termasuk kepulauan Indonesia) hingga kawasan perairan di sebelah barat, yang dimulai pada abad 15, para saudagar China telah berlayar ke kepulauan Nusantara sejak awal abad pertama Masehi demi menjalin perdagangan (halaman 55).

Sedangkan Bambang Budi Utomo sendiri, yang membahasakan diri sebagai jurutulis rendahan Pusat Riset Arkeologi Nasional, memfokuskan karya ilmiahnya pada pengaruh budaya China pada kerajinan laker. Pelbagai artifak kuno ditemukan dalam riset arkeologis di Palembang. Semuanya merupakan bukti bersejarah tentang keberadaan masyarakat Palembang yang menjalin perdagangan dengan banyak saudagar dari mancanegara sejak tahun 682 M. Di antara barang-barang yang diperdagangkan berupa keramik dari China, Thailand, Vietnam, dan Jepang menunjukkan adanya tata niaga antarkawasan. Banyak keramik di Palembang berasal dari China (halaman 70).

Terakhir, Yusuf Liu Baojun menjelaskan siapa Cheng Ho. Laksamana Cheng Ho, juga dikenal sebagai Laksamana Zheng He, nama China-nya Ma He, nama Islam-nya Ma Sanbao (tetapi dia juga lebih terkenal dengan nama Som Poh, Sam Poh Gung, Sam Poh Kong, atau Sam Po Taijian. Zheng merupakan gelar panggilan yang disematkan oleh Chen Zu, kaisar China asal Dinasti Ming, 1402-1424), yang mengapresiasi pengabdian Zheng He selama kekuasaan rezimnya (halaman 92).

Buku itu dieditori oleh Bambang Budi Utomo, arkeolog yang bekerja Pusat Riset Arkeologi Nasional pada Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata sejak 1982. Sebagai periset, Bambang banyak terfokus pada studi regional tentang Sriwijaya dan Melayu.(mbs)
http://news.okezone.com/read/2011/01/27/285/418659/diplomasi-budaya-ala-cheng-ho
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar